Pernah nggak sih kamu melihat sebuah kafe atau tempat olahraga yang lagi rame-ramenya, eh tiba-tiba sebulan kemudian tutup atau ganti nama, tapi konsepnya mirip banget? Kalau iya, bisa jadi pengusahanya lagi kena “skema Santo”.
Mari kita bedah bareng-bareng lewat cerita Sinta dan Santo yang lagi viral belakangan ini. Ini bukan sekadar cerita apes, tapi pelajaran mahal dalam memilih lokasi bisnis.
Cerita dimulai saat Sinta punya ide brilian: buka lapangan Padel. Di tengah tren gaya hidup sehat, Padel memang lagi naik daun banget. Datanglah Santo, si pemilik lahan di pinggir jalan besar dengan area parkir seluas lapangan bola.
Santo menawarkan harga “sahabat”: Rp100 juta per tahun. Tanpa pikir panjang, Sinta yang antusias langsung menyambar tawaran itu dan tanda tangan kontrak untuk 2 tahun. Di sinilah letak kesalahan pertamanya: Terlalu fokus pada potensi cuan, lupa memitigasi risiko kontrak.
Singkat cerita, bisnis Sinta meledak! Lapangan Padel-nya nggak pernah sepi. Sore hari selalu full booking, bahkan orang harus antre berminggu-minggu buat main. Dalam setahun saja, Sinta sudah balik modal (Break Even Point).
Secara kasat mata, Sinta sukses besar. Namun, tanpa dia sadari, Santo sang pemilik lahan sedang memantau dari jauh. Santo melihat grafik keuntungan Sinta, dia melihat traffic pelanggan yang datang, dan dia mencatat “resep” sukses Sinta.

Tiga bulan sebelum kontrak habis, “bom” itu meledak. Santo tiba-tiba muncul bukan untuk mengucapkan selamat, tapi membawa revisi kontrak baru. Biaya sewa yang tadinya Rp100 juta, mendadak melonjak jadi Rp300 juta per tahun. Naik 200%!
Sinta kaget bukan main. “Udah gila ya? Tahun lalu masih 100 juta!” protesnya.
Jawaban Santo santai banget, tapi bikin nyesek: “Kan bisnismu rame banget, Sin. 300 juta mah kecil buat kamu.”
Logika Santo sederhana tapi jahat: Dia ingin memeras keuntungan Sinta atau memaksa Sinta pergi. Karena merasa diperas, Sinta yang punya harga diri akhirnya memilih untuk berhenti dan tidak memperpanjang sewa.
Satu bulan setelah Sinta angkat kaki, sebuah lapangan Padel baru buka di lokasi yang sama. Namanya memang beda, tapi konsepnya, SOP-nya, bahkan target marketnya sama persis dengan punya Sinta. Siapa pemiliknya? Santo sendiri.
Santo tidak perlu riset pasar, tidak perlu cari lokasi, dan tidak perlu promosi dari nol. Dia tinggal “mencaplok” ekosistem yang sudah dibangun Sinta dengan keringat dan air mata. Inilah alasan pahit kenapa banyak bisnis tutup justru saat lagi rame-ramenya.
Secara hukum, kalau kontraknya lemah, Santo mungkin tidak bisa dipidana. Tapi secara etika bisnis, ini adalah praktik predator. Beberapa poin yang bisa kita pelajari:
Belajar dari kasus ini, ada beberapa tips biar bisnis kamu tetap aman meski menyewa lahan orang lain:
Investasi pada Branding, Bukan Cuma Lokasi: Jika pelanggan loyal pada brand Sinta, mereka akan mengikuti ke mana pun Sinta pindah. Tapi kalau pelanggan hanya loyal pada lokasi, Santo yang akan menang.
Bisnis bukan cuma soal jualan yang laku, tapi juga soal mengamankan “fondasi” tempat kita berpijak. Kasus Sinta dan Santo adalah pengingat bahwa di dunia bisnis, tidak semua orang ingin tumbuh bersama. Ada yang hanya ingin memanen apa yang tidak mereka tanam.
Jangan sampai semangatmu membangun bisnis justru jadi jalan tol buat orang lain sukses dengan cara yang curang. Cek lagi kontrak sewamu sekarang juga!
Apakah Anda sedang berencana menyewa properti untuk usaha? Saya bisa membantu mengoreksi draf poin-poin kontrak yang aman atau membantu menghitung proyeksi ROI agar Anda tidak terjebak harga sewa yang mencekik. Mau saya buatkan draf poin kontraknya?
Kami adalah kewirausahaan Parfum dan Affiliate Seller Toko, pengembangan bisnis UMKM mikro untuk masyarakat di Indonesia.
No products in the cart
Return to shop