Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Kabar duka menyelimuti tanah air setelah kita kehilangan tiga putra terbaik bangsa yang sedang menjalankan misi mulia di bawah bendera PBB di Lebanon. Mereka bukan sekadar tentara yang bertugas; mereka adalah representasi wajah damai Indonesia di mata dunia.
Kehilangan ini terasa sangat menyesakkan dada. Mayor Inf (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anumerta) M. Nur Ichwan, dan Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadhon adalah nama-nama yang kini terpatri dalam sejarah sebagai pahlawan kemanusiaan.
Mereka meninggalkan keluarga, kenyamanan rumah, dan tanah kelahiran demi sebuah tujuan yang jauh lebih besar: memastikan anak-anak di belahan bumi lain bisa tidur tanpa suara ledakan. Kita, sebagai saudara sebangsa, tentu mengecam keras segala bentuk tindakan keji yang merusak tatanan perdamaian ini. Tidak ada alasan apa pun yang bisa membenarkan kekerasan yang merenggut nyawa para penjaga perdamaian.

Mungkin banyak dari kita bertanya-tanya, “Kenapa TNI harus sampai ke sana?”. Sejak dulu, Indonesia memiliki komitmen kuat dalam pembukaan UUD 1945 untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia. Pasukan Garuda kita dikenal sebagai salah satu kontingen yang paling humanis dan dekat dengan warga lokal di Lebanon.
Gugurnya ketiga prajurit ini membuktikan bahwa risiko yang mereka hadapi sangat nyata. Medan tugas di Lebanon bukanlah tempat bermain; itu adalah garis depan diplomasi fisik di mana nyawa menjadi taruhannya.
Negara telah memberikan penghargaan kenaikan pangkat anumerta bagi mereka. Namun, lebih dari sekadar pangkat di pundak, negara berkomitmen untuk hadir bagi keluarga yang ditinggalkan. Pengorbanan mereka tidak akan pernah dibiarkan menguap begitu saja.
Menjaga kehormatan prajurit berarti memastikan bahwa nilai-nilai yang mereka perjuangkan—perdamaian, kerukunan, dan stabilitas—tetap hidup di dalam negeri kita sendiri. Sangat ironis jika mereka berjuang demi damai di luar negeri, sementara kita di dalam negeri justru sibuk bertikai karena perbedaan kecil.
Apa yang bisa kita lakukan untuk menghargai gugurnya Mayor Zulmi dan rekan-rekan? Jawabannya sederhana namun mendalam: Jangan beri ruang bagi perpecahan.
Dunia luar sudah cukup keras dengan konflik bersenjatanya. Jangan sampai kita menambah beban bangsa dengan narasi kebencian atau upaya memecah belah kerukunan. Mari kita jadikan momentum duka ini sebagai titik balik untuk mempererat kebersamaan.
“Prajurit tidak pernah mati, mereka hanya istirahat di tempat yang lebih tinggi.”
Kematian adalah kepastian, namun mati dalam tugas menjaga perdamaian adalah sebuah kemuliaan yang langka. Mari kita tundukkan kepala sejenak, mengirimkan doa terbaik untuk para pahlawan kita, dan berjanji pada diri sendiri untuk terus menjaga api perdamaian ini tetap menyala.
Tugas kalian telah usai dengan sangat terhormat. Kini, giliran kami yang menjaga Indonesia agar tetap damai dan bersatu.
Kami adalah kewirausahaan Parfum dan Affiliate Seller Toko, pengembangan bisnis UMKM mikro untuk masyarakat di Indonesia.
No products in the cart
Return to shop